Jumat, 05 Februari 2010

PUISI

SENYUM YANG TERENGGUT

Mendung itu menyapu senyum
Merampas asa,
tinggalkan jejak-jejak luka

Awan menghitam
Menyisakan cerita tentang pagi
Dingin,
kelu bibir membiru

Menatap nanar mentari
Di antara bias malam yang tak bersisa,
kulihat bening yang belum mengering

PAGI KELABU

Sekali lagi Kau guncang kami dengan marahMu
Menyentakkan jiwa-jiwa tak berdaya
Merenggut senyum yang pernah ada
Bersama bumi kami terkapar pasrah

Kerut-kerut yang hadir lewat waktu
Jiwa-jiwa yang baru sejenak melihat dunia
Terampas dalam sekejap
Mengsirnakan titik-titik asa

Pagi itu Kau bawa pergi tawa
Lalu hadiahkan aku tangisan’
Inikah yang layak kuterima?


AKHIRNYA TERTUMPAH JUA

Si Pemberi jiwa merajuk
Ia marah karena kita melupakanNya
Raga-raga memeluk dunia,
jatuh cinta pada harta

Kita teguk keserakahan dengan nafsu,
lalu tersedak
dan tercekik oleh amarah

Akhirnya,
Satu yang layak kita terima.
MurkaNya…murka yang tersimpan sekian lama
Akhirnya kini tertumpah jua


KEMBALIKAN

Kembalikan hatiku
Kembalikan jiwaku
Kembalikan harapku
Kembalikan mimpiku

Yang telah kau bawa
Yang telah kau renggut
Yang telah kau ambil
Yang telah kau curi

Jangan biarkan aku
Tertatih dalam sepi
Pada gelap tak bertepi
Berikan aku meski hanya secuil mimpi

SENDIRI DALAM BADAI

Asa itu telah membiru
Beku…tanpa rasa
Membiarkan ranting
Memeluk dingin.

Tapak putih itu tinggalkan jejak
Bayang menghilang
Tanpa kata
Tinggal butiran bening tersisa

Dalam badai mencoba bertahan
Setapak, selangkah perlahan berjalan
Sunyi…
Hanya deru angin menemani


TERENGGUT KHATULISTIWA

Sudah menguapkah rasa itu ?
Menghilang bersama garis waktu
Tak menyisakan setitik asa
Oleh bilur-bilur aku terluka

Batas khatulistiwa merenggutmu dariku
Laut dan daratan seolah mengejekku

Kini kau milik mereka
Bersama hatiku kau persembahkan dirimu.

AKU MASIH DI SINI


Kau tuang janji di atas pena
Mengajakku ‘tuk langkah bersama
Di atas pasir putih
Sambil memandang birunya laut

Aku berdiri di sini
Menunggumu menuai janji
Senja kemerahan di garis laut
Perlahan menghilang tinggalkan kelam

Aku masih di sini
Ketika janji mengeliat
Kau masih belum terlihat
Tertutup malamkah?

Gelap terasa panjang
Pagi seolah enggan menjelang
Aku masih di sini
Bersama janji-janji yang pernah kau tuang

KEBENCIAN

Kau tusuk bulan dengan merah matamu
meliarkan roh-roh kebencian
Pada lorong-lorong waktu
kau biar dendam bercumbu

Kau hanguskan rasa
dengan luka
memutilasi kenangan
dengan rindu yang berubah nama


Published by TRP Harian Analisa

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar